Yang diinginkan Aksara Mahendra kecil hanyalah kesempatan untuk dapat hidup dengan sebenar-benarnya, senyata-nyatanya, sehidup-hidupnya.
Aksa mengenal perbedaan jauh lebih baik dari siapapun. Setidaknya, itu yang ia yakini. Perbedaan melekat padanya seperti bulir-bulir keringat pada kulit di tengah siang yang terik. Tak peduli betapa kerasnya ia menyingkirkan bulir-bulir itu, mereka akan tetap kembali, mengingatkan dirinya akan belahan bumi yang ia pijak dan situasi di sekelilingnya.
Belahan bumi itu adalah sebuah rumah di salah satu sudut Kota Jakarta. Rumah yang mempunyai nama, ketika rumah teman-temannya hanya disebut rumah. Nama rumah itu Panti Pelangi Cita, dan Aksa tak benar-benar bisa membencinya walaupun ia teramat ingin.
Itu bukan perbedaan pertama yang ia sadari. Karena yang pertama muncul sepekan sebelumnya, di hari pertama ia masuk sekolah. Saat itu, semua murid diantar oleh orang tuanya. Sementara Aksa diantar oleh Ibu Meri, orang dewasa paling tua di panti, orang dewasa yang tidak bisa sepenuhnya ia klaim sebagai ibu sendiri.
Perbedaan kedua muncul tak lama setelahnya, bahkan masih di hari yang sama. Bu Guru Sandra, yang saat itu memperkenalkan diri sebagai wali kelas 1A, memanggil nama muridnya satu persatu. Nama Aksa, yang seharusnya dipanggil paling pertama berkat huruf A di awalnya, justru dipanggil paling terakhir. Nada memanggilnya pun terdengar berbeda. Tidak manis seperti saat memanggil yang lain, melainkan datar seolah tak begitu peduli.
Bu Guru Sandra ternyata memang tak peduli. Ia tak peduli Aksa selalu jadi yang paling cepat mengumpulkan tugas, tak peduli ketika Aksa dijahili yang lain, tak juga peduli ketika kepalanya jadi korban tendangan bola dari kakak kelas. Bu Guru Sandra memedulikan semua hal kecuali muridnya yang bernama Aksara Mahendra.
Dari sana, Aksa kecil makin sensitif dengan hal-hal di sekitarnya. Hal-hal yang terjadi tanpa melibatkannya, yang berlalu tanpa mau menunggu kesiapannya, yang tiba-tiba muncul tanpa peduli keterkejutannya.
Di sekolah ataupun di rumah, semuanya sama saja.
Aksa ingin hidupnya seperti yang lain. Yang dikelilingi seorang ibu dan seorang ayah, lalu berebut atensi mereka dengan seorang kakak atau seorang adik. Yang pergi jalan-jalan ketika hari libur, yang mengunjungi rumah nenek-kakeknya, yang selalu punya cerita seru untuk dibagikan.